>>partono, medan
DPRD Sumut optimis, banyak potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang belum tergali secara maksimal di daerah ini, guna menggenjot APBD hingga mencapai Rp8,5 triliun setahun.
"Masih banyak potensi yang belum diberdayakan dari berbagai sektor, yang mampu menghasilkan PAD cukup signifikan," kata Ketua Komisi C DPRD Sumut, Arifin Nainggolan kepada pers di Medan, Senin (30/11).
Dia mengemukakan hal itu mengomentari hasil kunjungan kerja komisinya ke Jogjakarta 25-26 Nopember 2009 bersama Dispenda Sumut.
Optimisme itu didasarkan pada studi perbandingan di Jogyakarta,yang dengan jumlah penduduk 3,2 juta dan lima kabupaten/kota, dan APBD Rp1,4 triliun. ‘Sekitar 40 persen APBD nya disumbangkan oleh PAD," katanya.
APBD Sumut sendiri tercatat Rp 3 triliun, dengan jumlah 33 kabupaten/kota dan jumlah penduduk 12 juta jiwa. "Harusnya secara proporsional, APBD Sumut berkisar Rp8,5 triliun per tahun," katanya.
Karenanya, ke depan nanti, Komisi C DPRD Sumut yang membidangi masalah keuangan akan melakukan analisis potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumatera Utara, dengan melakukan pengkajian yang melibatkan para pakar baik itu dari unsur akedemisi, birokrat, perusahaan dan pelaku usaha.
"Kita harus duduk bersama dan mencari celah untuk menggali berbagai potensi tadi, se-hingga sumber pendapatan daerah yang selama ini masih terkesan minim dan hanya tertumpu pada BBNKB dan PKB dapat lebih diperluas dengan mengoptimalkan semua sumber daya yang ada," jelas Arifin Nainggolan.
Cukup Besar
Arifin mengatakan, bila dikaji secara mendalam pada dasarnya Sumut memiliki potensi yang cukup besar dalam menambah keuangan daerah. Hal ini terlihat dari kekayaan alam serta berbagai potensi lainnya. Namun karena sektor ini, tidak dimanfaatkan secara baik de-ngan berbagai keterbatasan, akhirnya kantong-kantong penghasil PAD tersebut tidak mampu memberi kontribusi yang jelas.
Seperti halnya di sektor perkebunan dan kelautan. Sampai saat ini Sumut sebagai daerah perkebunan, belum merasakan manfaat secara nyata dari sektor ini. Coba Anda bayangkan, kata Arifin, begitu banyak jalan-jalan yang rusak akibat lalu lalangnya truk-truk pengangkut hasil perkebunan. Jadi menurutnya, kerusakan yang diakibatkan oleh sektor ini, tidak sebanding dengan kontribusi yang diterima daerah.
Demikian juga halnya hal-nya di sektor kelautan. Akibat kurangnnya pengawasan dan pemanfaatan yang tidak terprogram, hasil-hasil laut kita banyak berpindah tangan dan dimanfaatkan daerah lain.
"Laut kita punya, tapi yang menikmati hasilnya adalah orang lain dan kita hanya menjadi penonoton saja, " kata Arifin Nainggolan.
Ketika disingung selain potensi alam, sektor apa yang kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk menambah PAD bagi Sumut Arifin mengatakan, salahsatunya adalah dengan meningkatkan retribusi, seperti apa yang telah dilakukan Pemerintah Daerah Jogjakarta.
"Saya yakin bila semua elemen di Sumut mau melakukan perobahan dengan menerapkan pola-pola pengendalian keuangan secara berimbang serta menggali berbagi potensi yang ada, Rp 8,5 triliun bukanlah angka yang begitu besar untuk dapat kita capai. Jogja saja mampu, masak kita tidak, " kata politisi dari Partai Demokrat ini.
Dari serangkaian pertemuan yang dilakukan anggota Komisi C DPRD Sumut di Jogjakarta kata Arifin Nainggolan, terungkap bahwa sektor pengelolaan Usaha Kecil Menengah (UKM) memegang peranan penting bagi pembangunan ekonomi di daerah itu. ***