Tak Tahan Disiksa

Puluhan Mahasiswi Akbid Ikabina Rantauprapat Kabur

Tak Tahan Disiksa

>>zainul, rantauprapat
   Tak tahan disiksa, sekitar 80-an dari 101 mahasiswi Tingkat II Yayasan Akademi Kebidanan (Akbid) Ikabina Rantauprapat melarikan diri, Senin (27/12) sekira pukul 02:00 dinihari dengan cara menerobos pagar kampus.
   Pengakuan mahasiswa Akbid Ika Bina Rantauprapat saat ditemui, Selasa (29/12) di salah satu rumah orang tua mahasiswi, Setelah berhasil melarikan diri dari kampus dini hari itu, mereka bingung dan ketakutan hingga perjalanan mereka ada yang sampai ke Kecamatan Bilah Hulu, bahkan Kota Pinang, Labuhanbatu Selatan (Labusel).
   Dengan mengendarai empat unit mobil penumpang (mopen) hingga pagi, akhirnya mereka menuju rumah orang tua murid yang ada di sekitaran Jalan By Pass Rantauprapat, Selasa (28/12) sekira pukul 10:00 WIB.
  Sebelumnya subuh menjelang pagi, mereka terpisah dengan sebagian temannya yang tinggal di sekitar Kota Pinang. "Tapi kami yang tidak tinggal di Kota Pinang jadi bingung mau kemana, kami takut kalau kedapatan sama pihak yayasan, makanya kami sepakati berjalan-jalan saja," papar mereka seraya meminta tidak dituliskan identitasnya.
Mereka menuturkan, sistem pendisiplinan yang diterapkan yayasan dinilai sudah menyimpang. Terakhir mereka disuruh kumpul di halaman yayasan saat jam makan siang. Saat itulah salah seorang dosen menyuruh mereka makan siang sambil berdiri di tengah terik matahari.
Selain itu, sikap lain seperti memaki mahasiswi sering dilontarkan semua dosen kepada mereka. Apa yang selalu mereka kerjkan selalu dianggap salah oleh pihak yayasan.
   "Gara-garanya ada teman kami yang tidak sengaja mecahkan Kompas yang ada di RSU Rantauprapat, lalu kami dimarahi walau barang tersebut telah kami gantinya. Hampir setiap harinya kami selalu dimaki-maki, macam binatang kami disana dibuat bang," papar mereka.
  Selain itu, mereka juga mengaku jarang makan karena ketiadaan waktu. Sepulang dinas, terus ke kampus, sehingga tidak sempat lagi untuk istirahat. Ini kami rasakan sejak di tingkat satu, rupanya sekarang makin parah," kenang mereka.
   Salah satu orang tua mahasiswi, Zulfan Azhari Siregar, mengharapkan agar pihak yayasan tidak mangambil sikap yang dianggap berlebihan. "Tegas perlu, tetapi bukan keras. Di rumah sayalah anak-anak itu ngumpul, itupun karena saya suruh pulang dari pada nanti ada masalah dengan mereka (mahasiswi). Tadinya mereka takut, tapi setelah saya bilang tidak akan ada yang memarahi, akhirnya mereka datang juga," terang Zulfan.
   Direktur Yayasan Akbid Ikabina Rantauprapat Hj Masroh, saat dikonfirmasi wartawan mengakui hal itu. penerapan metode pendidikan seperti yang diterapkan beberapa oknum dosen dianggap suatu sikap yang tidak baik. Ke depan, pihaknya tidak akan melakukan hal itu lagi serta tidak akan melakukan intimidasi kepada mahasiswi yang kabur tersebut.
   "Saat kejadian saya lagi di Batam dan saya tidak suka cara seperti itu sebenarnya, memang dosen kita terlalu muda. Kita sudah bertemu dengan perwakilan orang tua dan saya jamin tidak akan ada permasalahan dibelakang. Namanya saja masih muda, mungkin masih sedikit manja. Kita juga sudah saling memaafkan," ujarnya.
   Menurut Masroh, kalau kita ingin anak kita berhasil, memang harus tegas dan disiplin diterapkan. Tetapi saya berjanji tidak akan terulang lagi sikap dan tindakan yang membuat mahasiswa merasa kecewa," tandas Masroh menjawab wartawan, Selasa (29/12) melalui selularnya. ***