>> kodir, padangsidimpuan
Guna mengejar peningkatan kwalitas pendidikan, SMK Negeri 1 P.Sidimpuan menjejakkan kaki hingga ke negara tetangga RI yaitu ke Singapore dan Malaysia bertukar informasi.
Studi banding yang dilaksanakan rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) ke kedua negara tetangga terdekat Indonesia ini berkad mendapat dukungan penuh Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Utara.
"Kedatangan kami beserta rombongan SMKN 1 di Singapore mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah yang dikunjungi." Demikian Kepala sekolah SMKN 1 P.Sidimpuan Drs Afifuddin Lubis kepada wartawan menceritakan pengalaman perjalanan studi banding mereka ke luar negeri sejak 13 hingga 18 Januari 2010 baru lalu.
Dikatakannya, tujuan kunjungan dalam rangka penjajakan kerjasama SMKN 1 P.Sidimpuan dengan pemerintah Singapore. Sekolah-sekolah yang telah mereka kunjungi seperti Boston Business School, Shelton High School, dan Victoria School Singapore. Sedang kesempatan di negara Malaysia sekedar menambah pengalaman.
Lebih lanjut dikatakan, dari hasil kunjungan itu SMKN 1 mendapatkan pengalaman seperti penerapan kurikulum sekolah diatur berdasarkan kurikulum yang dikeluarkan oleh pemerintah yang untuk diterapkan diseluruh seklah baiki negeriu maupun swasta. Layaknya di Indonesia memakai kurikulum KTSP.
Pengalaman berharaga lain soal pembelajaran di Singapore dilakukan dengan pengantar berbahasa Inggris, belajar tidak haraus dilocal/kelas namun bisa dilapangan/outbond. PBM (proses belajar mengajar) dilaksanakan belajar tuntas.
Singapore lanjut Afifudin menerapkan sistem pelaksanaan pembelajaran dilakukan 2 tahun di institusi (sekolah) dan 1 tahun dilakukan di industri. Soal pembinaan siswa tidak seperti di Indonesia sebutnya, di Singapore tidak ada upacara bendera seremonial. Namun, sebelum masuk semua siswa menyanikan lagu kebangsaan cinta tanah air, dan budaya baca minimal 5 menit baru pada siswa masuk ruang untuk belajar.
Patut untuk dicontoh siswa Indonesia dari Singapore imbau Afifuddin adalah soal pelayanan, dan kedisplinan. Pelayanan di kantin di Singapore memakai budaya antri, tidak seperti pemandangan di negara yang saling rebut.
Siswa terlambat diberikan nasehat, kedua kali diberi hukuman dan ketiga kali dipanggil orangtua. Untuk panggilan ketiga yakni mengahadirkan orangtua kata Afifuddin yang saat berbagi pengalaman dengan wartawan didampingi Dra Afrida Nasution (PKS bidang usaha industri, dan wakil manajemen mutu), serta Dra Nurhamidah Hasibuan (kordinator bimbingan dan penyluhan dan sekretaris guru) SMKN 1, jarang terjadi.
Guna menindaklanjuti studi banding rombongan yang berjumlah 13 Orang terdiri dari Kepala Sekolah, PKS kurikulum, Sarana, Kesiswaan, Humas/DUDI/Wakil manajemen mutu, Sekretaris guru, BP, guru normatif, ketua jurusan, dan kordinator RSBI, Dra Erni Mulatsih, M.Pd (Kasubdis PMK Propsu) dan Dra Rivolan, M.Pd (tim pengembang kurikulum Sumut) ke Singapore, SMKN 1 P.Sidimpuan akan menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dengan Boston Business Scholl
Kerjasama itu SMKN 1 telah menawarkan pada Singapore soal pariwisata budaya seperti tari salak-salak sibakkua, dan gordang sambilan. Lainnya, penerapan kurikulum dan pertukaran guru. "Guru Singapore akan hadir memberi pelatihan kepada guru di SMKN 1 P.Sidimpuan," sebut Afifuddin.
Bagi siswa (SMKN 1) yang telah mahir berbahasa inggris akan direalisasikan dilatih di industri Singapore 3 samapi 5 Orang setiap tahunnya, selama pelatihan siswa akan mendapatkan honor dari pihak Singapore," kata Afifuddin.
Disi lain atas studi banding tersebut SMKN 1 P.Sidimpuan berharap kiranya Pemko P.Sidimpuan dalam hal ini Dinas Pendidikan dapat memberikan perhatian penuh agar prestasi SMKN 1 yang saat ini bertaraf RSBI dapat ditingkatkan menjadi SBI (sekolah berstandar internasional) sejalan dengan visi misi Pemko menjadikan P.Sidimpuan sebagai kota pendidikan disamping barang dan jasa.
"Besar harapan kami Pemko dapat lebih fokus memperhatikan SMKN 1 guna peningkatan kualitas dan kuantitas dalam mencetak mutu SDM yang handal agar dapat bersaing dengan daerah daerah sejajar lainnya di Indonesia," kata Afifuddin mengakhiri pengalamannya. ***