>>zainul, rantauprapat
Perjalanan hidup anak manusia merupakan satu misteri yang tak pernah diketahui seutuhnya dari mana dan mengapa itu bisa terjadi. Demikian juga yang dialami Hasan Ritonga (20) Penduduk Desa Talun Manumbuk Kecamatan Bilah Hulu Labuhanbatu.
Sejak ditinggal ibunya saat berusia 10 tahun, Hasan kecil hidup bersama neneknya yang keseharian hanyalah petani. Meski demikian perjalan hidup Hasan mulai menemui kendala. Karena ketidakmampuan neneknya untuk membantu masalah pendidikan, Hasan terpaksa tidak melanjutkan sekolah seusai tamat Sekolah Dasar.
“Nenek gak punya uang untuk melanjutkan ke SMP, terpaksa berhenti dan harus membantu nenek,” katanya mengenang masa lalu yang kelam kepada imbc Minggu (7/2).
Namun bukan sampai di situ penderitaan yang dialami Hasan, awalnya ada rasa ngilu di rahang sebelah kanan, tapi karena hal itu merupakan satu kebiasan bagi anak remaja yang akan tumbuh dewasa, persoalan itu dia anggap tak akan berefek pada satu gejala yang menakutkan.
Memang ada rasa was-was melihat benjolan yang kian hari kian membesar di pipi kanannya. Tapi karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan juga biaya, menggunakan tenaga dukun (pengobatan tradisioanal) yang bisa di lakukan. ”Kalau mau kedokter biayanya mahal bang, nenek menganjurkan berobat alternatif saja,” terang Hasan.
Sebenarnya pengalaman masa lalu sudah memberinya pelajaran yang baik, sekitar tahun 2005, benjolan yang divonis kanker oleh dokter rumah sakit umum Rantauprapat dan adanya surat rujukan ke salah satu rumah sakit di Medan. Penyakit yang kerap membuat Hasan takut berhasil diangkat oleh salah seorang dokter Pirngadi Medan setelah dioperasi.
”Pipi sebelah kiri dioperasi, rahang dan gigi saya udah diangkat,” tuturnya seraya memperlihatkannya.
Tapi mengapa setelah itu, benjolan berpindah ke pipi sebelah kanan dan benjolan itu jauh lebih besar dari yang di operasi dulu. Entah apa penyebabnya yang jelas menurut beberapa orang medis yang di tanyakan, benjolan itu adalah kanker. ”Mungkin memang sudah nasib saya,” katanya sedih.
Harapan Hasan adanya perhatian pihak pemerintah untuk menolong dirinya terkait penyakit yang dideritanya. Dulu ada orang yang coba memfasilitasi agar dirinya di bantu dan bermohon kepada bapak Syamsul Arifin Gubernur Sumatera Utara agar meringankan biaya pengobatanya.
”Membantu untuk bertemu dengan bapak gubernur dan mau menolong saya, yah tapi mungkin hanya ingin membesarkan hati saya saja, sampai sekarangpun gak ada beritanya. Aku sangat berharap saat dijanjikan tapi yah sudahlah, mungkin belum rezeki,” pungkasnya. ***